
Peri Lili adalah seorang peri mungil dengan sayap kupu-kupu yang cantik. Dia baru saja menyelesaikan masa belajarnya di sekolah negeri peri. Kini dia sedang terbang di dunia manusia, mencari orang yang sedang dalam kesulitan.
Peri Lili sering mendengar cerita-cerita dari neneknya. Nenek peri lili adalah seorang peri tua yang baik. Sewaktu muda, nenek peri lili sering berkeliling dunia manusia dan menolong orang dengan sihirnya. Neneknya banyak menceritakan kisah-kisah perjalanannya kepada peri lili. Peri lili ingin sekali menjadi peri penolong seperti neneknya.
Sewaktu sedang melayang di atas desa, Peri Lili mendengar suara tangisan anak perempuan. Peri Lili langsung terbang menuju suara tangisan itu. Ternyata sumber tangisan itu adalah seorang anak perempuan cantik yang sedang mengepel lantai sebuah rumah yang besar.
Peri Lili mengucapkan mantera agar anak itu melihat cahaya yang menyilaukan, lalu masuk melalui jendela. Sebenarnya para peri bisa langsung menunjukkan diri, tentu saja. Tetapi para manusia lebih suka kalau melihat peri yang muncul secara ajaib.
”Siapa namamu gadis cantik?” kata Peri Lili. ”Kenapa kamu menangis?”
Anak perempuan itu berhenti menangis dan menghapus air matanya. Kemudian dia mulai bercerita. ”Namaku Ana. Aku menangis karena ibu tiriku menyuruhku mengepel rumah ini sendirian sementara dia dan saudara tiriku pergi berbelanja gaun untuk pesta dansa nanti malam. Kalau aku tidak menyelesaikan pekerjaanku, aku tidak boleh ikut pesta.”
Peri Lili berpikir di dalam hati. Ini mirip sekali dengan salah satu cerita petualangan neneknya! Lalu Peri Lili berkata kepada Ana. ”Jangan kuatir. Aku akan menolongmu.”
Peri Lili mengibaskan tongkat sihirnya dan kain pel serta ember yang dipegang Ana bergerak sendiri. Dalam sekejap, rumah yang besar itupun bersih. Tapi Ana masih terlihat sedih.
”Meskipun rumah ini sudah selesai dipel, aku tetap tidak punya baju yang bagus untuk pergi ke pesta dansa.”
Peri Lili tersenyum dan mengayunkan tongkat sihirnya. ”Jangan kuatir Ana.” Tiba-tiba, baju yang dikenakan Ana berubah menjadi Gaun yang indah.
”Selamat tinggal Ana” kata Peri Lili, sementara Ibu Tiri Ana dan Saudara Tirinya yang tidak secantik Ana tiba di rumah.
Kemudian Peri Lili melanjutkan perjalanannya. Di tepi desa, dia melihat seorang ksatria berkuda sedang termenung di depan sebuah gua. Peri Lili muncul dengan kilatan cahaya.
”Ada apa wahai ksatria gagah? Kenapa kau termenung?” tanya Peri lili.
Ksatria itu menceritakan masalahnya kepada peri lili. “Di gua itu hiduplah seekor naga yang menyemburkan api. Aku ingin mengusir naga itu, tetapi setiap aku mendekat dan mengacungkan pedangku naga itu membakar jubahku.”
Peri Lili mengayunkan tongkat sihirnya dan tersenyum. ”Karena keberanianmu, aku akan menghadiahkan sesuatu. Kini Pakaianmu akan menjadi tahan api dan kau akan mampu mengusir naga itu tanpa kesulitan.”
”Terima kasih peri,” terdengar suara si ksatria saat peri lili terbang menjauh.
Peri Lili sudah puas menolong orang hari itu dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Tetapi sebelum itu dia ingin beristirahat di tepi sungai. Saat dia beristirahat, seorang kakek tua datang membawa tongkat pancing dan bekal makanan. Ketika kakek itu melihat peri lili yang beristirahat, kakek itu mengajak peri lili makan bekalnya bersama-sama.
Seusai makan, peri lili berkata kepada kakek tua itu. ”Terima kasih kakek tua. Karena kakek baik padaku, aku akan memberi kakek hadiah. Sekarang setiap kali kakek memasukkan pancing kakek ke air, ikan akan tersangkut di kailnya.”
”Terima kasih peri,” kata kakek itu. ”Tetapi saya lebih suka memancing sendiri. Kalau pancing saya menjadi pancing ajaib, saya tidak bisa bersantai sambil memancing lagi.”
Peri Lili terkejut. Dia baru tahu ada orang yang tidak mau diberi hadiah keajaiban. Peri Lili jadi teringat akan dua pertolongan yang diberikannya sebelumnya, dan dia menceritakannya kepada kakek pemancing itu.
Kakek itu mendengarkan cerita peri lili dengan seksama kemudian tersenyum. Kakek itu berkata kepada peri lili. ”Coba kamu lihat lagi hasil kedua pertolonganmu itu.”
Peri Lili terbang ke pinggir desa tempat dia menolong si ksatria. Dia terkejut melihat orang-orang berlarian karena hewan-hewan buas datang ke desa. Dia mencari naga yang terusir dan menemukannya sedang bersedih di gunung. Naga itu bercerita.
”Aku tidak pernah mengganggu penduduk desa. Aku malah berteman dengan mereka. Penduduk desa sering membersihkan sarangku dan memberiku kue, sebagai gantinya aku menjaga desa dari hewan buas dan pencuri. Tapi tadi tiba-tiba aku diusir oleh seorang ksatria yang datang entah dari mana.”
Peri Lili terkejut mendengar cerita naga. Peri Lili mengayunkan tongkatnya dan naga itu kembali ke sarangnya. Dalam sekejap naga itu menakuti hewan-hewan buas dan penduduk desa bersorak kegirangan.
Kemudian Peri Lili terbang ke rumah Ana. Di sana dia terkejut melihat Ana yang bersantai sembari mengejek saudara tirinya yang sedang mencuci baju. Peri Lili terbang mendekati ibu tiri ana yang duduk dengan wajah sedih.
Ibu tiri ana bercerita kepada peri lili. ”Meskipun cantik, Ana sangat manja dan malas. Setiap ayahnya pergi ke luar kota untuk berdagang, Ana hanya mau bermalasan di rumah. Karena itu aku menghukumnya. Tapi tiba-tiba seluruh rumah sudah dipel dan Ana mendapat baju bagus entah dari mana.”
Dengan malu, Peri Lili mengakui kalau dia yang menolong Ana. Peri Lili mengayunkan tongkatnya, dan lantai yang telah dipel kembali ke keadaan semula dan baju Ana kembali menjadi baju biasa. Setelah meminta maaf, peri lili terbang kembali.
Sembari terbang ke rumah, peri lili berterima kasih kepada kakek pemancing tua. Hari ini dia telah mendapat banyak pelajaran.




